KURIKULUM '13
Bagaimana pelaksanaan di lapangan...?
Perangkat pembelajaran?
Penilaian
SELAMAT DATANG
Kamis, 14 Agustus 2014
Minggu, 29 Juni 2014
UCAPAN
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA BAGI KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, SEMOGA IBADAH ANDA DITERIMA OLEH ALLAH SWT, AMIN...
Sabtu, 03 Mei 2014
Refleksi Dua Mei
GURU BUKAN PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu amanat rakyat yang menjadi tanggung jawab negara yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945. Hampir 69 tahun sudah Indonesia merdeka apakah negara sudah melaksanakan dengan sungguh-sungguh amanat UUD 1945 ini? rakyat yang akan menilainya.Sangatlah memprihatinkan masih melihat banyak sekolah-sekolah di seantero Indonesia dengan kondisi fisik yang sangat meprhatinkan, bukan hanya terjadi di luar Pulau Jawa tetapi juga di Pulau Jawa yang nota bene tempat terdapatnya pusat pemerintahan dan pusat uang serta kegiatan ekonomi di Republik Indonesia tercinta ini. Kondisi ini lebih ironis lagi dengan uang miliaran bahkan triliunan rupiah yang ditilep dan dihambur-hamburkan oleh para koruptor.
Anggaran pembangunan pendidikan yang "katanya" dialokasikan makin banyak untuk membangun pendidikan sepertinya belum bahkan mungkin tidak menyentuh sebagian besar masyakat yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses, kesempatan dan hak untuk mendapatkan pendidikan. Bila kita lihat sepertinya sedang terjadi kapitalisasi pendidikan, sekolah yang kaya semakin kaya, sekolah yang miskin tetap tetap bahkan semakin miskin biaya pendidikan makin mahal dan hanya bisa di jangkau oleh masyarakat yang berduit saja. Bagaimana pemerintah sebagai satu-satunya otoritas dibidang pendidikan melihat kondosi ini?
Pemandangan yang sangat aneh dapat dilihat ada "sekolah internasional" berdiri di pusat pemerintahan di negeri ini tetapi tidak mengguakan kurikulum Indonesia. Baru mata kita tebelalak sekolah yang sembunyi di balik tembok dan bangunan yang megah ternyata terjadi tindakan asusila di dalamnya dan pemerintah didak mengetahuinya, di mana fungsi pengawasan dari pemerintah?
Kasus ini menjadi peringatan sekaligus pelajaran bagi pemerintah juga kepada masyarakat dan orang tua untuk lebih bijak dalam memilih sekolah untuk pendidikan anaknya, jangan terpesona dengan gedung dan fasilitas mewah yang menjadi alat lembaga pendidikan/sekolah untuk menarik masyakat. Orang tua kadang lupa atau tidak tahu bahwa yang membuat anaknya menjadi pintar/pandai bukan fasilitas tetapi guru. Mengapa masyarkat rela membayar mahal untuk fasilitasnya, tidak untuk gurunya?
Kondisi tersebut menjadi bumerang bagi dunia pendidikan karena kemudian profesi guru masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru sepertinya masih setengah-setengah. Tunjangan profesi yang diberikan kepada guru itu sebagai wujud penghargaan atau memang sebagai imbalan jasa yang melekat sebagai hak guru, tidak jelas. Alokasi dana dari pemerintah pusat relatif lancar tetapi di daerah pelaksanaannya perlu mendapat perhatian dan pengawasan dari pusat.
Guru adalah salah satu bidang profesi dalam bidang jasa jadi berhak untuk mandapatkan jasa. tidaklah mungkin guru tanpa tanda jasa. Guru yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik/profsional berhak untuk mendapatkan jasannya secara layak sebagai haknya, bukan sebagai bentuk belas kasihan dari pemerintah atau masyarakat. Jadai guru bukan pahlawan tanpa tanda jasa tapi pahlawan dengan tanda jasa. Terserah bagaimana pandangan/ penilaian masyarakat dan pemerintah terhadap guru, tapi menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Mari sahabat-sahabat guru terus tingkatkan profesionalisme dan jaga keluhuran profesi kita jangan nodai dengan tindakan dan perilaku yang tidak terpuji. Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. BRAVO Guru Indonesia!
Rabu, 23 April 2014
SERBA SERBU UN 2014
UN Ujian Nasional UN
Serba Serbi
Ujian Nasional tingkat SLTA sudah berlalu, persiapan yang panjang dan melelahkan telah terlewatkan, sekarang dengan hati yang berdebar-debar para siswa, orang tua bahkan pihak sekolah sedang menantikan hasil dari perjuangan mereka.
Segala cara dilakukan demi suksesnya ujian nasional, mulai dari sebelum, saat, sampai setelah pelaksanaan. Siswa, orang tua, guru, sekolah, masyarakat, bahkan pemerintah memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing terhadap suksesnya ujian nasional tersebut, sehingga tidak heran semua pada ikut sibuk mempersiapkan.
Sangat disayangkan, usaha yang mulia dan tak kenal lelah dinodai dengan tindakan tak terpuji. Hari ini saya merasa heran sekaligus kecewa saat membaca koran Magelang Ekspres edisi Rabu, 23 Maret 2014 terpampang di situ wajah tersangka yang melakukan kecurangan dan mengambil keuntungan dengan mengedarkan kunci jawaban. Apakah motif dan kepentingannya dengan tindakan tersebut, apakah hanya semata keuntungan finansial atau ada kepentingan yang lain....? mengingat pelakunya bukan orang biasa tetapi "MAHASISWA" yang notabene adalah kelas masyarakat "terpelajar" dan sebagai generasai penerus bangsa.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah mereka melakukan sendiri atau mereka hanyalah bagian kecil dari "sindikat" yang sangat berkepentingan untuk mengambil keuntungan dari suksesnya ujian nasional, bagaikan fenomena gunung es?
Mari kita semua instrospeksi, benarkah semua komponen yang mengharapkan suksesnya ujian nasional telah memberikan kontribusi pada koridor yang benar dan pantas? Yang perlu kita cermati lagi adalah apakah segala usaha yang kita lakukan sesuai dengan paradikma dan tujuan pendidikan itu sendiri. PENDIDIKAN tidak berorientasi pada hasil tetapi pada proses. Hasil yang baik tanpa proses yang benar apakah itu bermanfaat? Mari kita instropeksi bersama, tinggalkan yang salah dan lakukan yang benar.
Senin, 10 Februari 2014
Tuhan Masih Ada
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat..., kesibukan terasa tak pernah berkurang... pekerjaan tak pernah selesai, waktu memang berputar begitu cepat.
Bila tidak waspada kesibukan dan pekerjaan dapat memenjarakan kita, terpenjara dalam kebebasan, bebas dalam keterpenjaraan. Bagimana kita mensikapi kehidupan sekarang, apakah yang kita peroleh dan raih dengan kesibukan yang kita jalani?
Jangan lupa bahwa di dalam diri kita ada dimensi yang lebih dari sekedar kejasmanian yang kita lihat. Masih ada dimensi yang lebih penting dan bermakna yaitu dimensi rohani yang acap kali terlupakan.
Manusia hanya mengejar keduniawian dengan segala upaya dan cara, sukses material manjadi tjuan utama tanpa mempedulikan sesama. Materi, kedudukan, jabatan dan uang menjadi ukuran kesuksesan padahal semua itu bersifat fana dan sementara.
Ingatkah dan sadarlah kawan ada sesuatu yang lebih penting dan hakiki dalam hidup kita ...?
Semoga Tuhan membimbing dan menyertai kita dalam setiap langkah perjalanan hidup di dunia yang makin gelap dan tak menentu arah dan tujuannya.
Terang Tuhan akan terus menerangi langkah demi langkah kita, agar jangan tersesat ...! Tuhan masih ada
Bila tidak waspada kesibukan dan pekerjaan dapat memenjarakan kita, terpenjara dalam kebebasan, bebas dalam keterpenjaraan. Bagimana kita mensikapi kehidupan sekarang, apakah yang kita peroleh dan raih dengan kesibukan yang kita jalani?
Jangan lupa bahwa di dalam diri kita ada dimensi yang lebih dari sekedar kejasmanian yang kita lihat. Masih ada dimensi yang lebih penting dan bermakna yaitu dimensi rohani yang acap kali terlupakan.
Manusia hanya mengejar keduniawian dengan segala upaya dan cara, sukses material manjadi tjuan utama tanpa mempedulikan sesama. Materi, kedudukan, jabatan dan uang menjadi ukuran kesuksesan padahal semua itu bersifat fana dan sementara.
Ingatkah dan sadarlah kawan ada sesuatu yang lebih penting dan hakiki dalam hidup kita ...?
Semoga Tuhan membimbing dan menyertai kita dalam setiap langkah perjalanan hidup di dunia yang makin gelap dan tak menentu arah dan tujuannya.
Terang Tuhan akan terus menerangi langkah demi langkah kita, agar jangan tersesat ...! Tuhan masih ada
Kamis, 26 Desember 2013
UCAPKAN...
KAMI UCAPKAN
Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014
DAMAI DAN SUKA CITA NATAL
Selalu Menyertai Kita untuk terus hidup taat
Dalam Rencana-Nya yang Sempurna.
Kamis, 21 November 2013
Indonesia Oh...Indonesia...?
Indonesia..., negara dengan wilayah yang begitu luas, kekayaan alam yang melimpah, tanahnya yang subur, jumlah penduduk yang besar, apa lagi yang masih kurang untuk menjadi modal negara ini bisa maju, makmur dan sejahtera, tetapi kenyataannya banyak rakyat yang hidup miskin, melarat dan tertinggal.
Sangatlah ironis dengan kemacetan kendaraan di jalanan buka hanya kota-kota besar tapi juga kota-kota kecil, tapi masih banyak rakyat yang tidak dapat menikmati hidup dan pendidikan yang layak, di mana akar permasalahannya...?
Banyak rakyat yang mamiliki mentalitas malas..., ingin hidup enak tanpa kerja keras... para pemegang kekuasaan hanya memikirkan bagaimana mempertahankan kedudukan, menambah pundi-pundi uang dan kekayaan pribadi, keluarga dan kerabatnya. Saking dermawannya sopirpun di beri mobil mewah....?
Kehidupan beragama hanya tinggal wacana..., tidak ada aplikasi dan pengamalan dalam kehidupan sahari-hari, lebih takut perut/lapar daripada Tuhan yang Maha menentukan segalanya. "Perut" dan uang telah menjadi tuhan yang lebih ditakuti, disegani dan ditaati.
Sangatlah ironis dengan kemacetan kendaraan di jalanan buka hanya kota-kota besar tapi juga kota-kota kecil, tapi masih banyak rakyat yang tidak dapat menikmati hidup dan pendidikan yang layak, di mana akar permasalahannya...?
Banyak rakyat yang mamiliki mentalitas malas..., ingin hidup enak tanpa kerja keras... para pemegang kekuasaan hanya memikirkan bagaimana mempertahankan kedudukan, menambah pundi-pundi uang dan kekayaan pribadi, keluarga dan kerabatnya. Saking dermawannya sopirpun di beri mobil mewah....?
Kehidupan beragama hanya tinggal wacana..., tidak ada aplikasi dan pengamalan dalam kehidupan sahari-hari, lebih takut perut/lapar daripada Tuhan yang Maha menentukan segalanya. "Perut" dan uang telah menjadi tuhan yang lebih ditakuti, disegani dan ditaati.
Langganan:
Postingan (Atom)
